Dapatkan promo spesial free voucher Informa Pakuwon Mall Jogja senilai Rp. 5.000.000

Ekonomi DIY Tergantung Pada Situasi Domestik dan Global

TRIBUNJOGJA.COM,YOGYA – Pengamat Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo menyebut kondisi ekonomi DIY tidak lepas dari ekonomi domestik dan global.

Dari sisi ekonomi global, terjadi penurunan permintaan, pertumbuhan ekonomi dunia pun melambat. Sementara dari sektor finansial dunia, tergantung pada kebijakan bank sentral Amerika Serikat dengan suku bunga acuan yang tinggi. Dampaknya banyak investasi ke dolar, sehingga mata uang selain dolar, termasuk rupiah melemah.

“Perang Rusia-Ukraina, kemudian konflik Timur Tengah kan juga masih berlangsung. Sehingga ini mempengaruhi ekonomi domestik (Indonesia). Pasar domestik melemah, permintaah ekspor melemah, salah satunya tekstil produk tekstil (TPT). Nah ini membuat TPT kalah bersaing,” katanya, Kamis (27/06/2024).

Kondisi ekonomi DIY pun tidak lepas dari kondisi ekonomi Indonesia. Transisi kepemimpinan di Indonesia juga berpengaruh pada ekonomi domestik. Menurut dia, transisi kepemimpinan harus berjalan baik.  “Komentar-komentar yang keluar dari pejabat kita juga harus sesuai sentimen pasar. Karena kurs dolar itu sentimen pasarnya sangat kuat. salah sedikit saja, rupiah bisa melemah. Kasian BI juga yang terus berupaya memperkuat rupiah,” sambungnya.

Ia mengakui saat ini ada banyak pemutusan hubungan kerja (PHK), khususnya pada industri pertekstilan. Menurut dia, industri pertekstilan dan industri pengolahan di DIYmenjadi layer ketiga peyumbang ekonomi DIY. Sedangkan ekonomi DIY ditopang oleh industri pendidikan dan industri pariwisata serta turunannya.

“Kegiatan pendidikan dan pariwisata saat ini sudah berjalan normal. Ini yang akan menggerakkan ekonomi DIY. Namun yang perlu diperhatikan adalah industri dan perdagangan, ini menjadi layer ketiga. Sektor ini yang kadang dilupakan, padahal penyerapan tenaga kerja cukup besar,” ujarnya.

Ia menyebut industri PHK merupakan bagian dari efisiensi perusahaan, akibat turunnya permintaan, baik domestik maupun global. Menurut dia, kondisi PHK yang terjadi di DIY masih lebih baik, jika dibandingkan daerah lain seperti Jawa Timur dan Jawa Barat.

“Saya menduga yang melakukan PHK ini adalah industri kecil dan menengah. Karena industri besar yang berorientasi ekspor, meskipun ada penurunan permintaan masih bisa survive. Apalagi industri besar ini kan ada yang modal asing juga, sehingga masih bisa bertahan,” imbuhnya. (Tribun Jogja)